Kebingungan Publik di Tengah Media Terbelah di Yaman

Pemirsa di Yaman kini menghadapi kebingungan luar biasa ketika mengikuti perkembangan politik dan keamanan di negaranya sendiri. Satu peristiwa yang sama dapat tampil dengan versi yang saling bertolak belakang, tergantung saluran televisi atau situs berita mana yang ditonton.

Fenomena ini muncul karena lanskap media Yaman mengalami perpecahan serius seiring perubahan aliansi politik di lapangan. Media tidak lagi sekadar menyampaikan informasi, melainkan ikut bergerak mengikuti garis depan konflik dan kepentingan kekuasaan.

Dalam banyak kasus, satu media bisa terbelah menjadi dua versi yang menggunakan nama dan logo serupa, tetapi membawa narasi yang berlawanan. Kondisi ini membuat pemirsa awam kesulitan membedakan mana informasi resmi, mana propaganda politik.

Salah satu penyebab utama perpecahan media adalah pengambilalihan fisik kantor media di Sana’a oleh kelompok Houthi. Setelah kantor dikuasai, redaksi yang tersisa dipaksa menyesuaikan garis editorial dengan kepentingan penguasa baru.

Faktor kedua adalah perubahan peta koalisi di wilayah selatan Yaman, terutama persaingan antara Pemerintah yang diakui internasional melalui PLC dan Dewan Transisi Selatan atau STC. Ketegangan ini langsung tercermin dalam pemberitaan media lokal.

Tren ini terlihat jelas pada media yang berafiliasi dengan Partai Al-Islah. Secara ideologis, Al-Islah adalah musuh Houthi, namun tekanan politik dan keamanan di selatan membuat sebagian jurnalisnya mengambil posisi yang lebih pragmatis.

Media Al-Islah yang berbasis di pengasingan masih mendukung PLC dan Arab Saudi serta tetap keras menentang Houthi. Namun, di sisi lain, muncul kelompok jurnalis yang kecewa terhadap koalisi Saudi-UEA dan semakin kritis terhadap STC.

Kelompok jurnalis ini tidak sepenuhnya mendukung Houthi, tetapi mulai melihat mereka sebagai kekuatan lokal yang mampu menahan dominasi Uni Emirat Arab di selatan. Akibatnya, narasi di media sosial menjadi semakin terfragmentasi.

Berbeda dengan kasus Yemen Today, media Al-Islah belum benar-benar pecah menjadi dua saluran resmi. Perpecahan terjadi lebih halus, berupa pergeseran sikap individu jurnalis dan aktivis di ruang digital.

Perpecahan paling sistematis terjadi pada media resmi negara seperti Saba News dan Yemen TV. Sejak 2014, kedua institusi ini terbelah antara versi Sana’a dan versi pemerintah yang beroperasi dari Aden atau Riyadh.

Versi Sana’a menggunakan nama dan simbol yang sama, tetapi menyuarakan narasi Houthi tentang perlawanan terhadap agresi asing. Sementara versi luar negeri menyampaikan pesan pemerintah yang diakui dunia internasional.

Akibatnya, masyarakat yang mencari berita dari Saba News di internet kerap menemukan dua situs hampir identik. Isi beritanya saling bertolak belakang, seolah berasal dari dua negara yang berbeda.

Di wilayah selatan, situasi media tidak kalah rumit. Aden TV yang dulunya merupakan saluran negara berubah menjadi corong perjuangan kemerdekaan selatan setelah STC menguasai kota tersebut.

Di Hadramaut, media lokal berada dalam posisi yang lebih rumit lagi. Media seperti Hadramout TV harus menyeimbangkan kepentingan gubernur yang loyal kepada PLC dan aspirasi masyarakat yang menuntut otonomi lebih luas atau mendekat ke STC.

Ketegangan antara pusat dan selatan membuat media lokal sering berada di bawah tekanan dari berbagai pihak. Pilihan kata dan sudut pandang berita bisa menentukan nasib jurnalis dan keselamatan redaksi.

Di tengah fragmentasi itu, Al-Masirah milik Houthi menjadi pengecualian karena tetap solid sebagai satu suara. Namun, media ini juga menyerap jurnalis dari faksi lain yang berpindah haluan karena alasan ekonomi atau keamanan.

Alhasil, narasi Al-Masirah semakin beragam secara teknis, tetapi tetap berada dalam kerangka ideologi Houthi. Ini memperkuat posisinya sebagai media paling konsisten di wilayah utara.

Media kembar seperti Yemen Today, Saba News, dan Yemen TV kini menjadi simbol paling nyata dari perpecahan informasi di Yaman. Satu nama media tidak lagi menjamin satu kebenaran.

Bagi rakyat Yaman, kondisi ini memaksa mereka menjadi pemirsa yang jauh lebih aktif dan kritis. Banyak warga mengaku harus menonton dua atau tiga kanal sekaligus untuk memahami satu peristiwa.

Kebingungan ini bukan sekadar persoalan media, tetapi juga cerminan dari negara yang terbelah secara politik dan teritorial. Ketika pusat kekuasaan terfragmentasi, informasi pun ikut terpecah.

Selama konflik dan rivalitas politik masih berlangsung, perpecahan media diperkirakan akan terus berlanjut. Bagi pemirsa Yaman, kebenaran bukan lagi sesuatu yang tinggal ditonton, melainkan harus dicari di antara narasi yang saling berlawanan.

Posting Komentar

Distributed by Gooyaabi Templates | Designed by OddThemes